Ini
Kisahku
“Tidak!!! Ampun Pak Jong!! Bukan!
Bukan aku!” teriakku. Mama memanggilku dengan suara sangat kencang “Veeeeeeeee!
Bangun! Sudah siang!” yang semulanya terbaring hingga aku mendadak duduk dengan
kondisi terengah – engah dan berkeringat. Ternyata aku hanya mimpi. Vee ialah
namaku. Seorang anak tunggal dan masih duduk dibangku Sekolah Menegah Atas. Sejenak
aku diam mengatur nafas dan berdoa, lalu sahutku “Iya ma, sebentar ya. Aku
mandi”. Segeralah aku mandi dan bercerita pada mama “Ma, tadi aku ketakutan
karena dituduh plagiat tugas teman sebangku. Aku dihukum dan disuruh lari putar
lapangan karena kesalahan yang tidak ku lakukan” isak sedihnya. “Sudah nak. Itu
tandanya harus berhati – hati, kalau punya ide atausudah selesai, jangan sampai
terlihat oleh orang lain. Bisa saja orang lain mengumpulkan duluan tapi memakai
karyamu. Tenang ya” ucap mama sambil memelukku. Bergegaslan aku untuk berangkat
ke sekolah.
Sesampainya di sekolah. Pak Jong
yaitu guru kelasku memberi tugas. Kami masing – masing diminta untuk membuat
karya tulis bertema “Cara menghilangkan rasa malas”. Aku dan sahabatku Andra
saling bercerita dan bertukar pikiran. Tia – tiba akupun teringat oleh pesan
mama tadi pagi bahwa harus berhati – hati. Batas waktu yang diberikan hanyalah
satu minggu. Selama seminggu ini aku fokus dan mencari banyak referensi. Tiba
di hari pengumpulan tugas karya tulis. “Vee, punyamu sudah? Aku kurang dikit
nih! Lihat dong! Aku bener – bener
buntu! Sedangkan jam terakhir harus udah dikumpulin!” ucap Andra. “Maaf Raa,
aku juga belum selesai nih! Masih kurang di kesimpulan. Yuk pelan – pelan kita
kerjain sama – sama ya biar keburu” ajak Vee. Dalam hatinya bicara “Astaga,
hampir saja mimpiku terjadi, tapi syukurlah aku ingat pesan mama”. Waktunya
yang dinantikan tiba. Pak Jong masuk kelas dan semua bersiap untuk mengumpulkan
tugas. Sudah ku duga, pasti akan ditanya satu – persatu. Dengan rasa yakin dan
percaya diri, aku mengumpulkan tugasku. Akhirnya selesai sudah rasa ganjalku.
Tak terasa sudah setahun berlalu. Aku
menginjak bangku kuliah. Aku sangat terobsesi untuk menjadi juara. Mulai aku
fokus dan mengerjakan segala tugas dengan baik dan tepat waktu. Terdengar kabar
bahwa Indonesia dilanda pandemi. Aku bingung. Bagaimana dengan kuliahku.
Ternyata melalui online. Bersama dengan teman – teman baruku saling menjaga komunikasi
dengan baik. Kami berenam membentuk kelompok belajar sendiri. Saling bertukar
pikiran dan mencari jalan keluar jika ada materi yang sulit dimengerti.
Tiba disaat aku harus kembali ke
rumah orang tua yang sangat jauh dari teman – temanku dan kampusku. Disaat
itulah kemampuanku benar – benar diuji. Aku mengerjakan Ujian Akhir Semester
sendiri tanpa bantuan dari mereka. Aku diacuhkan begitu saja, sedangkan mereka
malah asyik berkumpul. Masa – masa ujian sudah terlewati dan aku mengerjakan
sendiri tanpa bantuan teman – temanku. Ketika pengumuman nilai, ternyata.
Nilaiku bisa kebih baik dari pada teman – temanku yang mengerjakan bersama –
sama. “Vee, nilaimu berapa? Dapat A atau B? Ada beberapa nilaiku C dan C+” ucap
Via, salah satu teman kelompok belajarnya. “Ini aku kirim nilaiku” jawab Vee.
Sekejap jadi perbincangan satu kelompok kalau aku mendapat nilai yang bagus.
“Kan kamu ga ada kerjaan lain, makanya bisa dapat bagus” kata Via dengan sinis,
“Aku hanya ingin menguji kemampuanku sebatas mana” sahutku sambil tersenyum.
Cobaan ternyata tidak berhenti pada
pertemanan, tetapi sinyal internet. Aku kehilangan sinyal internet. Usai
pengumuman nilai ujian, sekarang ku mulai masuk semester dua. Masih dengan
kondisi pertemanan yang sama dan sinyal internet yang makin sulit. Ketika ada
pertemuan secara online, aku panik. Laptopku sulit terhubung dengan koneksi
internet. Aku telepon Anto “Cuy, aku ga bisa join, gimana dong? Masa keluar
terus? Sinyalku mati. Ini telepon bisa, tapi join meeting ga bisa? Gimana nih?”,
“Ya udah kasih kabar aja ke nomor dosen langsung” balasnya. Aku mencoba
melakukan saran Anto. Sejenak ku berpikir “Pandemi, gini amat ya. Udah makan
susah, gaji dipotong, kuliah ga jelas alurnya gimana, internet ga bisa diajak
kompromi”
Komentar
Posting Komentar