Tiga Pahlawan Milenial

 

            Usai dari kemerdekaan. Ada seorang pemuda dan tampan bernama Dewa. Usianya 15 tahun yang masih tergolong remaja. Ia mengemban ilmu di Sekolah Menengah Atas dengan beasiswa. Dewa yang masih sangat muda ini, ternyata memiliki keinginan yang kuat untuk membentuk sebuah usaha. Memimpikan menjadi seorang pengusaha terkenal. Seketika Dewa berbicara dengan sang Ibu “Bu, bolehkan saya jika kuliah nanti pergi merantau? Saya ingin mengambil beasiswa di Jakarta” sambil merayu agar diijinkan. Ibu menjawab “Boleh saja nak, asal kamu dapat mempertanggungjawabkan dirimu. Sekarang fokus dulu lulus SMA dengan nilai baik ya”. Mereka hidup bertiga saja. Ayah, Ibu, dan Dewa adalah keluarga yang sangat sederhana. Ayah Dewa baru saja meninggal dunia satu tahun lalu karena penyakit Jantung. Selain memiliki kecerdasan yang luar biasa, ternyata Dewa sangat senang dengan menulis. Puisi, cerpen, bahkan ia ingin memiliki novel tentang kehidupannya. Bagaimana Dewa memperjuangkan sekolahnya. Dewa memang bukan dari kalangan menengah ke atas, ia sadar jika tidak memiliki teman. Dijauhi, dibenci, hingga pernah dimanfaatkan oleh beberapa temannya untuk mengerjakan tugasnya.

            Tidak terasa menjelang kelulusan SMA. Dewa dengan bangga dan bahagia meraih nilai tertinggi secara pararel dari seluruh Sekolah Menengah Atas Negeri tingkat kota. Perjuangan yang tidak sia – sia selama ini. Beberapa guru memberikan selamat atas kelulusan dengan nilai terbaik. Salah satu guru dan wali kelas Dewa yaitu Pak Joko “Nak.. Dewa, bapak bangga dengan kamu. Dulunya kamu dihina, dibully, dan dimanfaatkan teman – temanmu. Tapi bapak heran, kamu kenapa bisa begitu kuat? Hingga membuktikan dengan prestasi, sehingga mereka semua terbungkam”, dan jawabnya “saya pasrahkan semua sama Tuhan. Saya sebenarnya sakit hati dan sedih, tapi saya sadar bahwa ada yang harus saya perjuangkan. Pendidikan dan keluarga.”. Dengan terlihat salut dan bangga, Pak Joko memeluk Dewa.

            Ibu turut berbangga dengan prestasi yang telah dibuktikan oleh Dewa selama ini, kerja keras, tak mengeluh dengan keadaan yang sangat minim. Ibu yang selalu mendukung sekaligus mendidik Dewa menjadi pribadi yang hebat. Dengan berat hati, sang Ibu harus merelakan anaknya pergi merantau ke Jakarta. Pesan Ibu untuk Dewa “Dewa, anak satu – satunya Ibu. Tolong jaga diri baik – baik disana. Yang pandai membawa diri, dan terus kejar cita – citamu. Ibu yakin, kamu anak yang sangat bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan” berkata sambil menangis. Dewa berusaha menenangkan Ibu “Iya Bu, pasti. Aku ingin Ibu juga menjaga diri baik – baik di rumah. Aku akan berusaha membuktikan bahwa aku bisa.”.

Singkat cerita, Dewa tiba di Jakarta. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu media televisi ternama. Sempat diawal mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan membagi waktu antara bekerja dan kuliah, tapi semua berjalan baik adanya. Ia mengenal banyak teman, lingkungan, serta kebiasaan baru dengan pola hidup yang baru. Ada salah satu teman di kampus bernama Ajeng. Mereka saling menceritakan kisah hidupnya saat sebelum kuliah. Agak mirip dengan Dewa. Yang berbeda ialah Ajeng seorang anak kolongmerat di Jakarta. Hidupnya tidak semulus yang dibayangkan. Ajeng adalah anak tiri. Ia memiliki dua adik perempuan yang masih duduk dibangku SMA. Ajeng menceritakan “Kita sama – sama korban Bully. Tapi bedanya kamu dibully teman, aku dibully dua adikku. Mereka juga sering memanfaatku untuk mengerjakan tugas sekolahnya, aku diperlakukan layak pembantu di rumah. Ketika berangkat kuliah saya baru dikasih fasilitas diantar. Dulunya aku hanya jalan kaki ke sekolah kurang lebih 5km” sahut Dewa “Kamu pribadi hebat ya. Bisa melewati semua dengan baik.” dengan wajah bingung, Ajeng berkata “Siapa bilang? Aku sering ga pulang ke rumah. Bahkan aku tidur rumah sahabatku. Aku sangat tertekan dengan keadaan di rumah. Seakan tak memberiku kesempatan untuk belajar. Janjiku pada mendiang Ayah bahwa aku harus berprestasi dan aku berusaha mewujudkannya.”.

Mereka beda fakultas. Dewa fakultas teknik industri dan Ajeng fakultas psikologi. Merekapun bersahabat. Ketika ada acara kampus, mereka mengenal satu sosok yang sangat pendiam tapi menonjol dalam organisasi. Dia adalah Tika. Seorang mahasiswa dari fakultas manajemen bisnis. Tidak sengaja mereka satu tim saat kuis dalam sebuah acara kampus. Tika memiliki nasib yang sama seperti Dewa dan Ajeng. Menempuh pendidikan dengan penuh perjuangan. Tika bicara “Bedanya gue, ya gitu. Hidup dengan bantuan orang lain.” Sahut Ajeng “Maksudnya gimana? Kamu baik – baik aja sekarang?” Dewa “Coba cerita pelan – pelan. Maaf kalau kita agak sedikit ingin tahu ya.”. Tika menjelaskan “Santai aja kali guys, gue dulunya bahagia tanpa tekanan. Sejak SMP orang tua gue bangkrut, terus dibantu sama temen Bokap. Dia punya anak cowok, gue dideketin tapi gue nolak. Setiap ada penolakan slalu bawa – bawa bokap!” sejenak Dewa dan Ajeng tercengang. Kata Tika “Yah, sekarang masih dideketin sih, tapi gue jaga perasaan Bokap aja sekarang. Gue ngerasa dijadiin tumbal. Kadang ga fokus belajar. Nyokap sering banget berantem m Bokap di rumah. Gue pusing. Temen udah perlahan menjauh karna tahu hidup gue pas – pasan waktu SMA. Semoga kalian ga kayak temen – temen gue sebelumnya ya.”.

Mereka bertiga akhirnya bersahabat, dengan masa lalu yang cukup sulit. Dihampiri banyak problematika kehidupan yang sering kali mengganggu fokus belajar mereka, tapi dengan gigih dan semangat pantang menyerah, berhasil dilewati dengan baik. Dengan perbedaan jurusan yang ditempuh, tak membuat semangat mereka meraih cita – cita. Ajeng ingin memiliki sebuah klinik kesehatan mental, sedangkan Dewa dan Tika ingin memiliki sebuah perusahaan. Tika ingin segera memulihkan kondisi keuangan keluarga dan membayar semua utang keluarganya, sehingga tidak ada hutang budi. Ajeng, Dewa, dan Tika mencoba untuk menyatukan keilmuan mereka dengan sebuah usaha yang dirintis bertiga. Membuka taman belajar kecil di sebuah pemukiman kumuh. Khusus untuk mereka yang kurang mampu. Dewa “Jeng, Tik, kita kasih pendidikan gratis buat anak – anak ya. Mereka juga layak bisa seperti kita” Ajeng mengangguk dan sahut Tika “Oke. Gue setuju. Gue m Ajeng bisa bantu apa?”. Dewa membagi tugas. Dewa bilang “Kita bertiga sama – sama sebagai guru mereka. Aku akan membantu perlengkapan alat tulis, Ajeng dan Tika, kalian tugas cari dana. Tika banyak kenal pengusaha – pengusaha kaya kan? Ajeng berusaha bicara supaya kita dapat pemasukan dana untuk mengajarkan mereka. Gimana? Setuju gak? Atau ada tambahan?” sahut Tika dan Ajeng “Siap bos”.

Sebenarnya apa tujuan mereka bertiga? Mengapa mereka ingin membuat taman belajar bagi anak kurang mampu? Ternyata mereka ingin mengubah bangsa Indonesia ini dapat menjadi negara maju dan menjadi bangsa yang berpendidikan. Pendidikan tidak hanya melulu sekolah. Tapi juga dengan pendidikan karakter. Dengan susah payah mereka mengajar anak – anak jalanan. Jerih lelah mereka tak sia – sia. Sudah berjalan tiga tahun dan rupanya ada yang melirik kegiatan mereka. Menteri sosial kala itu langsung memberikan mereka sejumlah bantuan dana dan membuatkan lahan khusus untuk mengembangkan taman belajar.

Kerja keras dengan kegigihan. Tidak terasa empat tahun sudah dan menjelang kelulusan. Seiring berjalannya waktu. Mereka mulai merintis usaha masing – masing dengan masih bekerja sama. Tanpa kita sadari, mereka seperti beberapa tokoh pahlawan jaman dulu. Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, dan Dewi Sartika. Sama – sama memperjuangkan pendidikan. Sikap dan karakter yang luar biasa. Semangat, pantang menyerah, dan selalu berusaha telah mendarah daging pada diri mereka masing – masing. Akhirnya mereka berhasil membuktikan kepada semuanya bahwa usaha tidak menghianati hasil. Para siswa – siswi Taman Belajar juga memiliki kesempatan yang sama. Mereka dapat diterima di sekolah negeri dengan menggunakan beasiswa.

Bangsa yang besar juga memiliki jiwa yang besar untuk mau berusaha. Walau sering kali jatuh, gagal, tetapi jangan jadikan itu semua sebagai penghalang. Justru jadikan itu sebagai cambuk agar kita sebagai putra dan putri bangsa dapat membuktikan semuanya layak menggapai cita – cita. Lelahlah kamu belajar? Lihatlah para pejuang kita terdahulu dan karakter pejuang menurun pada generasi milenial saat ini hingga berhasil menggapai tujuan hidup. Bagaimana denganmu?

Komentar